Mati.
Minggu tiga belas di semester 6. Minggu-minggu yang selalu dibilang terberat selama jadi mahasiswa Ilkom karena deadline projek yang menumpuk. Ada 5 projek yang harus diselesaikan, presentasi, dan harus dikumpulkan mulai Rabu 22 Mei 2013 dan selama seminggu kedepan. Ya meskipun tugas gue (seperti biasa) kebanyakan ngurusin dokumentasi, tapi beberapa projek ada yang gue coba kerjain sendiri ko. Dan Selasa 21 Mei 2013 sekitar jam 19.00 laptop kesayangan si Totos yang udah 2 tahun lebih setia menemani (spek : Toshiba L635, intel Core i3, VGA ATi, memory 2 GB, dual-boot win7 win8) blue screen dan…. mati. Iya, lagi install Ubuntu server, udah berkali-kali blue screen sih kalo nyetting-nyetting Ubuntu tapi tetep bandel dicobain haha dan mati. Yaudah mati. Sekian.
"Aku tidak lebih pintar dari yang lain, aku hanya lebih niat. "
Facts on Gender Differences
(Source: psych-facts, via psych-facts)
Melepas
Setiap orang pasti punya banyak hal yang sangat berarti dalam hidupnya, keluarga, teman, teman dekat, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesempatan, pengalaman, dan masih banyak lagi. Begitu pun gue, ga keitungnya rasa bersyukur gue karena udah dikasih segitu banyaknya sama Allah yang sangat sangat gue syukuri.
Tapi hidup bukan cuma tentang mengejar sesuatu, mendapatkan sesuatu, tapi juga tentang melepas sesuatu, even if its your favorite one. Karena kita gabisa punya semuanya, gabisa jadi orang yang punya hidup serba sempurna, dan masalah melepas dan kehilangan ini harus gue akuin merupakan salah satu fase hidup yang paling mendewasakan.
Melepas, selama hidup gue, tentunya banyak hal-hal yang udah pernah gue lepas. Kesempatan, pengalaman, bahkan teman pun ada yang gue lepas kalo mungkin udah ga sejalan. Ada yang sengaja, ada yang engga, ada yang emang gue harapkan, ada juga yang gue lakukan dengan terpaksa. Terlepas dari itu, gue percaya dengan melepas kita sedang bergerak ke arah yang baru. Kita melepas untuk sebuah proses baru, proses yang kita harapkan akan lebih baik ke depannya. Dan gue percaya, kalo kita melepas sesuatu dengan ikhlas kita akan mendapat sesuatu yang lebih baik nantinya buat kita. Insha Allah.
Gue masih terus belajar untuk melepas, melepas hal-hal buruk dari diri gue, melepas pengaruh buruk lingkungan sekitar, melepas hal-hal yang bikin jengkel atau hal-hal yang susah buat diikhlasin, dan masih banyak proses melepas yang gue lakuin setiap harinya.
Hari ini, gue belajar melepas lagi. Melepas kesempatan yang sebenernya udah cukup lama gue kejar. Bukan, gue bukan melepas ini karena gue lupa dengan tujuan gue, tapi gue melepas ini semata-mata karena gue percaya ini keputusan terbaik. Ada satu film yang baru gue tonton, yang punya quote “terkadang kita melakukan hal-hal tidak berguna untuk mengejar sesuatu, tapi percayalah kita akan belajar sesuatu dari hal tersebut”. Dan kayanya quote ini lagi pas buat gue. Hehehe
Membuang sebuah kesempatan, untuk berusaha menciptakan kesempatan baru, ini ga salah kan? Dan inilah yang disebut dengan melepas. Melepas suatu pilihan untuk pilihan yang lain. Disinilah skala prioriatas lo diuji, dan hal ini yang baru terjadi sama gue, gue harap semoga ini merupakan keputusan terbaik. Semoga. Insha Allah :))
Homeland ♥: mengenang, tanpa mengulang ;)
Ada lagulagu yang begitu terputar, ingatan langsung terlempar ke sebuah kenangan. Ada tempat-tempat yang begitu didatangi, pikiran langsung melayang ke sebuah kenangan. Ada wewangian yang begitu terhembus, alam bawah sadar langsung memanggil kenangan. Pada dasarnya kenangan itu mengikuti, begitu kita memutuskan berjalan ke depan.
Ada airmata yang mungkin tumpah, menyesali kenangan yang tidak bisa berulang. Ada senyum lega yang mungkin berburai, mensyukuri kenangan yang akhirnya tercipta. Ada pahit, agar tau rasanya manis. Ada manis, agar tidak lupa bahwa yang ada bukan hanya pahit. Kita punya kenangan, untuk bisa mengambil pelajaran pahitmanis itu. Untuk bisa menemukan pijakan yang cukup mantap dalam melanjutkan perjalanan. Kemana? Kita juga tidak tahu.
Satu semester lalu, bahkan mungkin setahun lalu, ada airmata yang masih tumpah. Ada patahpatah yang meremah, ada pedihpedih yang merajam, rasanya seperti bersiap mati berdiri, hanya dengan mengenang. Bukankah memang rasanya lebih baik mati, daripada kehilangan kenangan yang dianggap potongan surga saking indahnya?
Malam ini? Cuma ada senyum lega. Senyum syukur. Senyum bangga. Senyum ikhlas.
Ada halhal yang dibiarkan Tuhan hilang, agar kita menemukan yang baru. Mungkin hal yang lama itu sudah tidak bisa lagi memberi pelajaran, tidak bisa lagi membahagiakan, bukan lagi yang terbaik. Mungkin ada hal baru yang sejak kita belum lahir pun sudah dituliskanNya. Kita akan berpindah. Kita harus bertemu fase demi fase, sebelum sampai pada tujuan akhir. Dan kita harus punya kenangan, mau pahit mau tidak, yang penting kita punya sesuatu untuk dikenang. Untuk dipelajari.
Pada akhirnya semua hanya masalah waktu. Bukan masalah sudah berpengganti atau belum. Pada akhirnya kita butuh jeda, entah panjang entah pendek, untuk menerima bahwa tidak ada kenangan yang bisa berulang. Untuk meyakini bahwa cara Tuhan mengambil kenangan dan tidak mengizinkannya berulang itu berarti bukti bahwa Tuhan sayang. Bahwa kita tidak boleh memakan labi roti yang sudah berjamur. Bahwa untuk tahu akhir kisah berseri, kita harus membeli seri baru setelah selesai membaca satu seri, karena mengulangulang seri yang sama tidak akan membawa pada akhir apaapa.
Pada akhirnya, luka butuh waktu untuk pulih, dengan atau tanpa obat.
Akan sampai juga waktunya, dimana mengenang itu melegakan. Semacam pengingat syukur, berterimakasih pada setiap kesempatan Tuhan yang sudah membiarkan kita menemukan. Yang sudah membuat kita kehilangan. Akan sampai juga waktunya kita menikmati setiap mengenang, tidak lagi berharap terulang, dan justru berterimakasih karena sudah hilang sekalian dan tidak kembali lagi. Waktunya akan sampai. Tinggal bagaimana sikap menghadapinya sejak sekarang, mau mulai ikhlas dan realistis atau tidak..
Karena toh semua kenangan itu pada dasarnya indah. Yang membuatnya berubah rasa hanya masalah tidakbisa berulangnya. Terlalu banyak orang lupa bahwa keindahan itu tidak abadi. Kalau indah terus, kapan kita belajar? Dan yang membuat penerimaan atas fakta bahwa kenangan tidakbisa berulang itu hanyalah..ikhlas.
Kita semua mengenang. Setiap hari. Kita semua memelihara kenangan. Sepanjang hidup. Meski kita samasama tahu, tidak ada kenangan yang berulang. Maka apa menyesalinya akan membuat kenangan itu berulang? Menangisinya, mengutuknya, berpatah karenanya, itu akan mengembalikan keadaan? Tidak. Akan. Pernah.
jangan sampai hanya karema kenangan yang memenjara, gajah dipelupuk mata terlihat, sementara semut diujung samudera tidak terlihat. Nanti ketika sadar, menyesalnya berlipatganda.
Mengenanglah, dan berterimakasihlah atas kesempatan menciptakan kenangan baru untuk masa depan di masa sekarang ini. Syukuri mereka yang menjadi bagian didalamnya, karena kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan hilangkan dan menjadikan mereka hanya kenangan juga.
Kita ini bagian dari kenangan yang terus menciptakan kenangan. Kita cuma berpindah dari satu kenangan ke kenangan lain. Maka seharusnya ketika mengenang, kita hanya seperti memutar rekaman perjalanan. Cuma rindu yang boleh ada, bukan sesal, apalagi pilu.
Mengenanglah ;)
:)
(Source: crescenthemum)
Naik Bukit di daerah Ciampea Bogor. Ini pertama dan terakhir kalinya kayanya buat gue. Pertama, emang gabakal diizinin sama Nyokap kalo kaya ginian lagi, apalagi sampe sekarang masih alergi efek megang tanaman-tanaman liar, kedua fisik gue yang biasanya mager mulu juga ga kuat hahaha. Tapi terimakasih Atana, Ayu, Adit, Rivo, Uki, Bayu dan para bocah Yani, Boski, Jumro, dan 2 temennya lagi yang udah nemenin dan narikin gue buat terus naik ke atas setiap gue keabisan nafas. Unforgettable :)
Me & Dad. Some Years Ago.
- Gue : Pih, kenapa sih adik harus bawa kendaraan sendiri? Kan kampus adik gajauh ga kaya Ateh, naik angkot juga 45 menit nyampe.
- Dad : Ya kamu kan sibuk, sering pulang malem.
- G : Kan bisa nebeng temen, atau ga naik ojek kalo kemaleman, atau sekali-kali minta jemput juga kan bisa. Dulu juga pulang les tiap malem naik Pusaka biasa-biasa aja, padahal lebih jauh.
- D : Ya gapapa atuh, daripada kendaraan nganggur tuh di rumah. Mending dipake kan. Kan udah pengalaman dulu naik kendaraan umum mulu, sekarang bawa sendiri.
- G : Tapi kan gaenak, temen-temen adik juga pada ga bawa, padahal rumahnya lebih jauh, pulangnya lebih malem, kalo kaya gini kesannya adik sombong banget, manja banget harus bawa kendaraan sendiri, yang lain aja biasa-biasa aja. Adik gasuka jadi pusat perhatian karena kaya gini. Adik mau kaya yang lain.. (sambil mau nangis)
- D : Jangan egois dong, mikirnya dari kamu aja. Bersyukur kamu dikasih kelebihan. Kalo kamu belum pulang sampe malem, Apih kan khawatir, belum tentu Apih bisa jemput. Kalo kaya gini kan Apih lebih tenang. Kalo masalah sombong, itu pinter-pinternya kamu bawa diri. Jangan segan ajak-ajak temennya buat dianter pulang. Mereka juga pasti ikut seneng kan kalo ada yang anter pulang.
- G : ..................